Langsung ke konten utama

Postingan

Hi Smith!

Lewat buku The Wealth of Nations, Smith mendeklarasikan ekonomi independen yang ditandai lewat kelahiran Revolusi Industri. Ekonomi dan kemakmuran tidak hanya dimiliki aristokrat tetapi juga setiap individu. Sesuai jamannya, Smith sengaja menulis untuk membebaskan orang-orang biasa yang bekerja 16 jam sehari. Ia ingin mengubah sistem ekonomi penyokong perbudakan dengan menganggap bahwa perekonomian akan berkembang pesat bila para aristokrat ini berekspansi. Dimulailah penjelajahan dan eksplorasi ke negara-negara tak bertuan untuk mencari komoditas dagang. Bagi Smith, semakin banyak orang berpindah tempat, tanpa ada pembatasan perdagangan antar negara maka perekonomian semakin maju (khusus negara eropa). Dimulailah perpindahan modal para partikelir ke belantara hutan tropis untuk menemukan berbagai macam komoditas mentah yang gratis karena penjajahan.  Gagasan Smith banyak membincangkan perekonomian negara dan individu, para orang kulit putih. Pertama, kekayaan negara...

New Frontier: Perampasan Tanah Berjuluk Krisis Energi dan Pangan

Di Indonesia, istilah “ frontier ” semakin familiar sejak kehadiran buku Anna Lowenhaupt Tsing,  Friction: An Ethnography of Global Connection  (2005). Secara etimologis, “ frontier ” berarti ‘zona perbatasan’. Namun, pengertian “ frontier ” di sini tak sekadar pengertian geografis. Saya menyepakati Tsing kala memahami “ frontier ” sebagai proses akumulasi kapital dari pencerabutan masyarakat yang diimajinasikan primitif ( primitive ) dan biadab ( savage ) terhadap kawasan hutan tempat mereka hidup. Akumulasi juga ditandai dengan ekstraksi sumberdaya alam di zona yang seolah-olah tak beraturan. Ketidakberaturan itu lahir karena kolaborasi antara aktor legal dan ilegal, bandit dan pemodal, sehingga menyegerakan transformasi atas sumberdaya di kawasan yang dipandang milik publik ( common property ) (Tsing, 2005: 27–28). Deskripsi “ frontier ” memang lekat dengan Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, hingga Papua, yang diimajinasikan sebagai bank sumberdaya tak terbatas bagi pembang...

Ben Urip Tetep Semeleh: Dinamika Pemuda Kelompok Banyumili

Abstraksi Artikel ini berupaya untuk mengulas keseharian hidup pemuda kelompok Banyumili yang berada di dusun Gadingsari, desa Mangunsari Kecamatan Sawangan Kabupaten Magelang. Secara turun menurun, sebagian besar masyarakat dusun Gadingsari menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Kondisi alam dusun Gadingsari yang subur menjadikan wilayah ini menjadi salah satu basis pengembangan sektor pertanian di Kabupaten Magelang. Sebagaian besar wilayah dusun Gadingsari merupakan lahan pertanian produktif. Di sisi lain, kondisi ini tak lantas membuat masyarakat dusun Gadingsari lepas dari himpitan ekonomi. Sebagian besar masyarakat dusun Gadingsari hidup dibawah garis kemiskinan. Hampir 90% petani di dusun Gadingsari merupakan petani penggarap. Sejauh ini lahan produktif hanya dapat diakses dan dimiliki oleh sebagian masyarakat saja. Persoalan lain terkait pengelolaan sektor pertanian adalah intervensi modal investor hortikultura dari Korea Selatan yang membuat kondisi sosial ek...

Ngapain Belajar!

Duduk seorang mahasiswa di beranda universitas Membawa ijazah yang dikempitnya puas Ia termenung melihat mobil berjajar luas Apa semua kawannya bermobil? Sengit, dia tertawa, tidak harus kaya bila kredit murah di depan mata Orang berlarian, berfoto dan membayangkan meja kerja di masa depan Berkacak pinggang, senyum genit dengan sanggul menor lalu berfoto ria Berjalan dengan sepatu tinggi yang mungkin bukan merk imitasi saja Berbaju rapi bak model sedang bergaya Ah enaknya, Dibayangkan masa depan dengan otak kacangan Ingin jadi pegawai karena tunjangan Dicarinya lowongan menurut kebutuhan Jadi mapan saja yang dipikirkan Tanggungjawab mah bukan urusan Lupa saja kalau disampingnya bayi busung kelaparan Susu si ibu tak keluar karena kurang makan Lupa saja kalau bermeter-meter dia berjalan Orang mengais sampah di kolong-kolong jembatan Ah mudah saja, cukup bilang kasihan dan beri recehan Ngajapain belajar? Kan mau dapat jabatan Makin tinggi pendidikan, makin tebal ...

Sekumpulan Pecundang yang Telanjang

Apa guna punya ilmu tinggi Kalau hanya untuk mengibuli Apa guna banyak baca buku Kalau mulut kau bungkam melulu ... Di mana-mana moncong senjata Berdiri gagah kongkalikong dengan kaum cukong (Wiji Tukul, Apa Guna) Kala Wiji Tukul membuat sajak itu Mungkin tak terbayangkan olehnya tentang masa di mana manusia Indonesia bebas bicara Saat aku, kamu dan mereka bertatap muka saling kritik, saling cerca, saling sungging Mungkin tak terbayangkan pula olehnya, orang-orang lihai berbincang aneka persoalan Membaca dan beretorika tanpa beradu moncong senapan Sebuah hari saat manusia Indonesia bebas mengumpat dan mencaci penguasa Bertindak layaknya bulus dan berdiplomasi di depan tong-tong ketidakberdayaan Mungkin tak terbayangkan pula olehnya, orang-orang menulis demi komoditi Kala teori dan metodologi meletakkan manusia ke dalam laboratorium percobaan Diamati dan direkam, seolah instrumen penelitian baku menjadi pijakan Mungkin tak terbayangkan o...

Siapa Bunuh Siapa?

          Sudah satu minggu lebih warga Desa Tiron di lereng Wilis disibukkan oleh bisik-bisik penemuan mayat perempuan di sungai. Kala ditemukan, mayat itu sudah membiru dan terbungkus dengan serampangan di dalam karung. Kalau tak ada orang yang memancing di sungai mungkin mayat itu sudah dimakan kuthuk , dimakan buaya atau dibawa banaspati ke peraduannya. Satu orang berteriak, “ mayit, mayit, mayit .” Tak kurang dari lima menit kemudian, kerumunan orang pun terbentuk. Aku menjadi salah satu dari mereka, sumpah serapah pun ikut kuucapkan ketika bau yang dihasilkan teramat menyengat. Bau kematian. Inilah pertama kalinya aku melihat mayat, teramat menjijikkan bentuknya. Perutnya lembek, beberapa ekor belatung sudah menggerogoti ususnya. Sementara payudara si mayat tampak layu dan kusut, mungkin karena sudah tidak ada air susu untuk ditopang. Wajah perempuan itu pun tampak lebam keungu-unguan disertai dengan kepala yang botak, tidak cantik. Entah mengapa kerum...

Sepanjang Lorong Merah

Ciptaningrat Larastiti Yogyakarta, 30 September 2010 Di penghujung bulan September tahun lalu, aku bertanya kepada vaginaku. “Hai Kembang-ku, apa yang kamu pikirkan tentang hari ini? Pernahkah kamu mengingat sebuah masa di mana kita menjadi layu?”  Vaginaku diam. Pendengarannya memang sudah tak setajam dulu ketika ia masih ranum. Aku pun bersabar lalu mengulang pertanyaan serupa. Namun ia hanya menggeliat. Aku memahami perasaannya, mungkin saja ia mulai merasa tak berguna semenjak tubuhku berhenti menstruasi. Aku memang menopause sebelum usiaku menginjak empat puluh tiga. Bukan karena alat kontrasepsi yang menghambat rembesan darah keluar dari vaginaku. Bukan itu, toh selama ini aku tak bersuami. Memang ada sebab lain yang akan kuceritakan kembali padanya. Sebuah cerita tentang penetrasi yang menekan Kembang-ku kuat-kuat. Tercekik dan tak bergerak...                     ...