Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Catatan Belajar

Kuasa Eksklusi dan Dilema Lahan di Asia Tenggara

Catatan Belajar: Kuliah Umum Tania M. Li STPN 14 Desember 2016 Catatan ini sengaja saya susun untuk berbagi pengalaman belajar dalam kuliah umum Tania Li beberapa hari lalu di STPN Yogyakarta. Bagi saya, kuliah ini menjadi cara penting untuk memahami kembali buku Power of Exclusions. Jadi mohon maaf bila catatan ini kurang runut, dan banyak diselipi istilah-istilah yang seharusnya terjelaskan terlebih dulu. Catatan ini setidaknya berisi tiga hal: Pertama pengertian eksklusi sebagai pembeda dari konsep-konsep lain dalam belantara kajian agraria dan transformasi sosial di Asia Tenggara. Kedua, pemahaman tentang empat bentuk kekuasaan eksklusi yang tidak terjebak pada pemahaman legal-formal semata. Ketiga, enam proses yang dijelaskan Tania Li membentuk hubungan-hubungan warga dengan lahan di Asia Tenggara. Tania Li membuka paparan tentang “Power of Exclusions” dengan menjelaskan pendekatannya yang komprehensif dalam melihat perubahan hubungan lahan dan warga di perd...

Hi Smith!

Lewat buku The Wealth of Nations, Smith mendeklarasikan ekonomi independen yang ditandai lewat kelahiran Revolusi Industri. Ekonomi dan kemakmuran tidak hanya dimiliki aristokrat tetapi juga setiap individu. Sesuai jamannya, Smith sengaja menulis untuk membebaskan orang-orang biasa yang bekerja 16 jam sehari. Ia ingin mengubah sistem ekonomi penyokong perbudakan dengan menganggap bahwa perekonomian akan berkembang pesat bila para aristokrat ini berekspansi. Dimulailah penjelajahan dan eksplorasi ke negara-negara tak bertuan untuk mencari komoditas dagang. Bagi Smith, semakin banyak orang berpindah tempat, tanpa ada pembatasan perdagangan antar negara maka perekonomian semakin maju (khusus negara eropa). Dimulailah perpindahan modal para partikelir ke belantara hutan tropis untuk menemukan berbagai macam komoditas mentah yang gratis karena penjajahan.  Gagasan Smith banyak membincangkan perekonomian negara dan individu, para orang kulit putih. Pertama, kekayaan negara...

Balada Raskin

Siang terik di kaki Pegunungan Sewu tanah-tanah gerang karena hujan tak kunjung datang. Tak hanya tanah saja yang merekah, pohon jati juga meranggas serasa enggan mengulas senyum. Tiada bosan matahari menyengat bumi kars Pegunungan Sewu selama lima bulan ini. Walau begitu para petani masih rela berjalan tanpa alas kaki, membawa caping dan karung seadanya untuk mencari pakan bagi ternak mereka. Padahal rumput-rumput di gunung kars sudah mengering tiada memberi gizi bagi kambing para petani. Maka di siang inilah aku berdiri menatap gersang yang tak pasti. Awan cerah memang tak mampu mengulum senyum bagi bapak dan ibu yang hadir di depanku. Mereka bergeliat menantang kerja di ladang yang tak kunjung dilakukan. Namun apa daya, hawa masih panas karena musim labuh tak segera tuntas. "Niki sampun gawe lalahan, nunggu jawah nembe ngawu-awu, (Ini sudah menyiapkan tanah di ladang, menunggu hujan baru nanti menyebar bibit,) ” ungkap salah satu petani. Walau ladang telah disiapkan dan p...

Jari-jari Lentik Buruh Rokok

November 2010 saya pergi ke salah satu kota di Jawa Timur untuk melakukan riset mengenai petani dan buruh tembakau. Tentu saja saat berbicara buruh tembakau yang terbayang pastilah sekelompok remaja putri lulusan SMP dan SMK atau ibu muda, syukur-syukur para ibu berusia 40 tahun yang masih dipercaya oleh pabrik untuk bekerja. Merekalah perempuan-perempuan terpilih yang dianggap memiliki kemampuan khusus untuk memproduksi rokok secara cermat, teliti, rajin dan cepat. Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar industri rokok atau mitra produksi rokok, menjadi buruh rokok mungkin sebuah pilihan hidup atau bahkan keberuntungan. Dengan berdirinya pabrik-pabrik rokok maka angkatan kerja perempuan akan terserap dalam jumlah banyak. Lambat laun, industrialisasi membuat nilai perempuan di mata masyarakat juga meningkat. Mereka tak hanya seorang perempuan dengan kewajiban manak, masak lan macak . Kini mereka menjadi ‘terbebaskan’ dengan kemandirian ekonomi dari upah menjadi buruh linting pabr...

Lumbung, Budaya Tani yang Redup

Setiap orang memiliki hak untuk kenyang. Dan petani sebagai produsen pangan, seharusnya selalu kenyang dan berkecukupan. Namun kondisi tersebut jarang terjadi, karena tidak semua petani memiliki tanah luas untuk menghasilkan surplus panen. Banyak dari mereka terhimpit dalam kehidupan subsisten, hari ini makan beras besok makan ubi atau tidak makan sama sekali. Kekhawatiran petani terhadap kelaparan inilah yang menuntut mereka hidup dalam batasan aman. Lalu mengapa petani sebagai penghasil pangan justru sangat rentan kelaparan?             Menyambung sedikit mengenai kerentanan di kalangan petani ada sebuah fakta ironis yang melatarbelakangi hal tersebut. Petani kini terjebak pada sebuah mekanisme rumit, salah satunya ditunjukan dengan kecenderungan mereka untuk mengurangi kelaparan dengan menjadi buruh-buruh di kota. Budaya tani kian hari dimusnahkan. Situasi tersebut seoleh membenarkan ucapan Marx pada 1846 melalui Manifes...

Krisis Kritik

Kita mengenal Sekolah Frankfurt yang dilatarbelakangi oleh semangat Renaissance sebagai manisfestasi atas budaya kritik. Para inisiatornya, Hockheimer maupun Adorno bertolak dari gagasan Marxisme yang kian lama semakin tak sehat. Mereka hidup pada sebuah masa di mana komunisme dan fasisme merebak, di mana negara –toh pada akhirnya- menguasai rakyat sepenuh-penuhnya. Lagi-lagi kultur kritik memiliki kekuatannya untuk membaca jaman itu. Ini Tidak Benar! Demikian refleksi yang dipertentangkan. Bagi kritik, sebuah ideologi –dan atau teori- tak dapat direduksi menjadi sekedar nilai-nilai pakem (dogma) yang semakin parah jika dikawinkan dengan kekuasaan. Retorika itu bisa berbahaya, akhirnya peran ideologi sebagai pisau analisis fenomena sosial-kultural-politik-ekonomi justru mengalami dekadensi. Sebuah teori memang tak boleh menjadi norma yang mutlak, karena norma sebuah teori ada pada kritiknya.              Nah, bagaimana dengan...

8 Maret dalam Roti dan Bunga

Tanggal 8 Maret 2010. Tak ada momen yang ulang tahun, seingat Ratri. Namun, kenapa pada hari itu ia menandai bulatan merah dan tanda kepal tangan di sana? Ia memang tak ingat bahwa pada hari yang sama di tahun lalu, Ratri menerima seuntai bunga dari pengamen di pinggir jalan. ”Selamat Hari Perempuan Interanasional, kak,” tegur pengamen itu usai menyerahkan mawar merah sederhana dari kertas. Ratri hanya tersenyum. Tak secuil pun ia menanggapi ”Hari Perempuan Interansional”, sebagai sebuah hal asing, yang diucapkan oleh perempuan pengamen itu. Sesekali Ratri justru iba. Pada saat yang bersamaan di moment 8 Maret tahun lalu. Ratri menerima selebaran usang yang tertempel di pinggir-pinggir jalan bertuliskan, ”Ayo perempuan, keluar rumah dan rebut hakmu.” Kembali Ratri terpinkal. Ia tertawa dan berujar, ”Ada apa ini? Kenapa semua orang begitu antusias,” pekiknya.  Pelan-pelan ia membuka lembaran kertas berwarna merah itu. Kulitnya yang kusam, bagi Ratri, hanya menandakan ketidakpedulian...