Langsung ke konten utama

Postingan

Ben Urip Tetep Semeleh: Dinamika Pemuda Kelompok Banyumili

Abstraksi Artikel ini berupaya untuk mengulas keseharian hidup pemuda kelompok Banyumili yang berada di dusun Gadingsari, desa Mangunsari Kecamatan Sawangan Kabupaten Magelang. Secara turun menurun, sebagian besar masyarakat dusun Gadingsari menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Kondisi alam dusun Gadingsari yang subur menjadikan wilayah ini menjadi salah satu basis pengembangan sektor pertanian di Kabupaten Magelang. Sebagaian besar wilayah dusun Gadingsari merupakan lahan pertanian produktif. Di sisi lain, kondisi ini tak lantas membuat masyarakat dusun Gadingsari lepas dari himpitan ekonomi. Sebagian besar masyarakat dusun Gadingsari hidup dibawah garis kemiskinan. Hampir 90% petani di dusun Gadingsari merupakan petani penggarap. Sejauh ini lahan produktif hanya dapat diakses dan dimiliki oleh sebagian masyarakat saja. Persoalan lain terkait pengelolaan sektor pertanian adalah intervensi modal investor hortikultura dari Korea Selatan yang membuat kondisi sosial ek...

Ngapain Belajar!

Duduk seorang mahasiswa di beranda universitas Membawa ijazah yang dikempitnya puas Ia termenung melihat mobil berjajar luas Apa semua kawannya bermobil? Sengit, dia tertawa, tidak harus kaya bila kredit murah di depan mata Orang berlarian, berfoto dan membayangkan meja kerja di masa depan Berkacak pinggang, senyum genit dengan sanggul menor lalu berfoto ria Berjalan dengan sepatu tinggi yang mungkin bukan merk imitasi saja Berbaju rapi bak model sedang bergaya Ah enaknya, Dibayangkan masa depan dengan otak kacangan Ingin jadi pegawai karena tunjangan Dicarinya lowongan menurut kebutuhan Jadi mapan saja yang dipikirkan Tanggungjawab mah bukan urusan Lupa saja kalau disampingnya bayi busung kelaparan Susu si ibu tak keluar karena kurang makan Lupa saja kalau bermeter-meter dia berjalan Orang mengais sampah di kolong-kolong jembatan Ah mudah saja, cukup bilang kasihan dan beri recehan Ngajapain belajar? Kan mau dapat jabatan Makin tinggi pendidikan, makin tebal ...

Sekumpulan Pecundang yang Telanjang

Apa guna punya ilmu tinggi Kalau hanya untuk mengibuli Apa guna banyak baca buku Kalau mulut kau bungkam melulu ... Di mana-mana moncong senjata Berdiri gagah kongkalikong dengan kaum cukong (Wiji Tukul, Apa Guna) Kala Wiji Tukul membuat sajak itu Mungkin tak terbayangkan olehnya tentang masa di mana manusia Indonesia bebas bicara Saat aku, kamu dan mereka bertatap muka saling kritik, saling cerca, saling sungging Mungkin tak terbayangkan pula olehnya, orang-orang lihai berbincang aneka persoalan Membaca dan beretorika tanpa beradu moncong senapan Sebuah hari saat manusia Indonesia bebas mengumpat dan mencaci penguasa Bertindak layaknya bulus dan berdiplomasi di depan tong-tong ketidakberdayaan Mungkin tak terbayangkan pula olehnya, orang-orang menulis demi komoditi Kala teori dan metodologi meletakkan manusia ke dalam laboratorium percobaan Diamati dan direkam, seolah instrumen penelitian baku menjadi pijakan Mungkin tak terbayangkan o...

Siapa Bunuh Siapa?

          Sudah satu minggu lebih warga Desa Tiron di lereng Wilis disibukkan oleh bisik-bisik penemuan mayat perempuan di sungai. Kala ditemukan, mayat itu sudah membiru dan terbungkus dengan serampangan di dalam karung. Kalau tak ada orang yang memancing di sungai mungkin mayat itu sudah dimakan kuthuk , dimakan buaya atau dibawa banaspati ke peraduannya. Satu orang berteriak, “ mayit, mayit, mayit .” Tak kurang dari lima menit kemudian, kerumunan orang pun terbentuk. Aku menjadi salah satu dari mereka, sumpah serapah pun ikut kuucapkan ketika bau yang dihasilkan teramat menyengat. Bau kematian. Inilah pertama kalinya aku melihat mayat, teramat menjijikkan bentuknya. Perutnya lembek, beberapa ekor belatung sudah menggerogoti ususnya. Sementara payudara si mayat tampak layu dan kusut, mungkin karena sudah tidak ada air susu untuk ditopang. Wajah perempuan itu pun tampak lebam keungu-unguan disertai dengan kepala yang botak, tidak cantik. Entah mengapa kerum...

Sepanjang Lorong Merah

Ciptaningrat Larastiti Yogyakarta, 30 September 2010 Di penghujung bulan September tahun lalu, aku bertanya kepada vaginaku. “Hai Kembang-ku, apa yang kamu pikirkan tentang hari ini? Pernahkah kamu mengingat sebuah masa di mana kita menjadi layu?”  Vaginaku diam. Pendengarannya memang sudah tak setajam dulu ketika ia masih ranum. Aku pun bersabar lalu mengulang pertanyaan serupa. Namun ia hanya menggeliat. Aku memahami perasaannya, mungkin saja ia mulai merasa tak berguna semenjak tubuhku berhenti menstruasi. Aku memang menopause sebelum usiaku menginjak empat puluh tiga. Bukan karena alat kontrasepsi yang menghambat rembesan darah keluar dari vaginaku. Bukan itu, toh selama ini aku tak bersuami. Memang ada sebab lain yang akan kuceritakan kembali padanya. Sebuah cerita tentang penetrasi yang menekan Kembang-ku kuat-kuat. Tercekik dan tak bergerak...                     ...

Balada Raskin

Siang terik di kaki Pegunungan Sewu tanah-tanah gerang karena hujan tak kunjung datang. Tak hanya tanah saja yang merekah, pohon jati juga meranggas serasa enggan mengulas senyum. Tiada bosan matahari menyengat bumi kars Pegunungan Sewu selama lima bulan ini. Walau begitu para petani masih rela berjalan tanpa alas kaki, membawa caping dan karung seadanya untuk mencari pakan bagi ternak mereka. Padahal rumput-rumput di gunung kars sudah mengering tiada memberi gizi bagi kambing para petani. Maka di siang inilah aku berdiri menatap gersang yang tak pasti. Awan cerah memang tak mampu mengulum senyum bagi bapak dan ibu yang hadir di depanku. Mereka bergeliat menantang kerja di ladang yang tak kunjung dilakukan. Namun apa daya, hawa masih panas karena musim labuh tak segera tuntas. "Niki sampun gawe lalahan, nunggu jawah nembe ngawu-awu, (Ini sudah menyiapkan tanah di ladang, menunggu hujan baru nanti menyebar bibit,) ” ungkap salah satu petani. Walau ladang telah disiapkan dan p...